Kutu Buku : Bemo pustaka yang masuk istana

Hiburan Pendidikan

Apa sih yang terbesit di pikiran kalian tentang bemo? Pastinya moda transportasi
usang yang udah ketinggalan zaman. Atau, kendaraan yang tidak ramah lingkungan.
Bemo sendiri adalah moda transportasi elit di era 70 hingga 90-an, berawal dari
Jakarta hingga kini tersebar diberbagai daerah seperti Bogor, Bandung dan
Tangerang.
Tapi kali ini kita enggak bakal bahas bemo yang biasa-biasa, bemo yang kita bahas
kali ini adalah bemo yang beri nama “Kutu Buku”. Si Kutu Buku ini bukan sembarang
bemo karena memang tidak mengangkut penumpang manusia, tapi
penumpangnya adalah buku-buku yang siap dijajakan gratis untuk dibaca oleh adik-
adik SD hingga SMP.
Bemo ini dimiliki oleh Sutino, Bapak yang akrab disapa Pak Kinong ini sudah
menjadi supir bemo sejak tahun 1976. Namun sejak tahun 2013, aktivitasnya
bertambah menjadi penjaja buku gratis di bemonya. Pak kinong tinggal di Karet
yang berselebahan persis dengan pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Pak Kinong sebelumnya pernah menggunakan bemo listrik sebagai “alat
tempur”nya, namun karena biaya baterai yang mahal dan baterai yang dibeli tidak
cukup tahan lama untuk berkeliling maka kegiatan Pak Kinong sempat mati suri
hingga tahun 2013. Pada tahun 2013, pak Kinong dibantu oleh teman-temannya
dari salah satu Universitas di bilangan Jakarta. Pak Ikon dan Pak Iman adalah teman
selama pak Kinong menjadi supir bemo keliling.
Berkat bantuannya, Pak Kinong mendapatkan bemo baru berwarna ungu yang
sudah di rombak, dengan memasukkan rak-rak buku tepat di kursi belakang.
Dengan kondisi bemo baru, pak Kinong kini setiap harinya berkeliling dari pukul
10.00 hingga menjelang petang. Buku yang dijajakan memang masih untuk anak-
anak SD dan SMP, namun perlahan-lahan dengan semakin banyaknya warga yang
mendonasikan bukunya kepada pak kinong membuat pilihan buku menjadi
beragam.
Tak hanya menjajakan buku gratis, pak Kinong juga selalu mengadakan nonton film
gratis untuk anak-anak kecil dengan menggunakan layar tancep di akhir pekan. Pak
Kinong beralasan dengan adanya kegiatan ini berharap anak-anak tidak kekurangan
hiburan, karena ketika pak Kinong kecil sulit sekali mengakses hiburan. Dan
tentunya menghindari mereka dari kegiatan yang negatif.
Berkat kegigihannya, pada perayaan hari pendidikan pada tahun 2017, pak Kinong
mendapatkan undangan khusus dari presiden untuk datang ke istana bersama si
“Kutu Buku”. Dengan mengundang para pegiat literasi di Indonesia, pak Kinong tak
dating sendiri membawa si bemo, ada juga angkutan yang menyediakan bacaan

gratis tepat di kaca belakang dengan menggunakan rak buku kecil, ada juga
pedagang telur dadar keliling menggunakan motor dengan menaruh leamri kecil
yang terbuat dari kayu yang salah satu ruangnya di isi oleh beberapa buku.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pentingnya membaca,
dan bertebarannya pustaka-pustaka bergerak yang unik. Membuat saya ingin
menepis anggapan apa yang pernah di sampaikan oleh lembaga survey bahwa
minat baca masyarakat Indonesia itu rendah. Jika memang minat membaca
masyarakat kita rendah, mengapa para pegiat literasi ini masih terus aktif
menggelar bacaan gratis? Bagi saya hanya satu jawaban yang paling tepat, mereka
tahu bahwa minat membaca masyarakat kita sangat tinggi, namun akses untuk
mendapatkan bacaan yang menyenangkanlah yang sulit.
Berbanggalah Pak Kimong dan seluruh pegiat literasi di Indonesia, karena berkat
kalian adik-adik kita bisa mendapatkan bacaan gratis nan menghibur tanpa harus
memusingkan para orang tua dengan harga buku yang semakin mencekik.
Dipublikasikan pertama kali di bacatangerang.com

Profil penulis :
Nama : Rahmat Baihaqi
Biodata : Pecinta karya Dewi Lestari, penikmat Serie A, dan mencintai kota Milan
dengan merah-hitamnya.
DapatDapat dijumpai di Twitter dengan akun @rbaihaqi_