Ondel-Ondel Nasibmu Kini

Opini

Selama ini Tangerang diidentikkan dengan urang sunda karena letaknya yang berada di Propinsi Banten. Maklum saja, Banten dulunya bergabung dengan Jawa Barat sebelum akhirnya memekarkan diri. Jadi sudah biasa kalau menyebut diri orang Tangerang, hampir pasti orang lain menganggap kita sebagai urang sunda.

Padahal kondisinya ya tidak begitu. Walau berada di Banten, secara geografis Tangerang juga berbatasan dengan ibukota. Apalagi Kota Tangerang dan Tangerang Selatan yang persis bersebelahan. Karenanya di Tangerang pun tidak sedikit orang betawi yang hidup dan tinggal di sini.

Di tempat saya mengontrak di Neglasari, sebagian besar warga yang tinggal ialah orang betawi. Maka tak heran jika kita bermain ke sana akan ada sedikit wangi khas buah jengkol yang menyengat di hidung. Ya, jengkol memang sudah amat melekat dengan orang betawi.

Namun kali ini kita tak bakal membahas orang betawi dan juga jengkolnya. Karena memang betawi bukan hanya jengkol dan jengkol tidak melulu betawi. Maka dari itu, marilah kita bahas sebuah budaya yang memang pasti betawi dengan bentuk seperti boneka raksasa itu. Yap, kita lagi mau bahas ondel-ondel nih.

Ondel-ondel memang telah lama menjadi simbol dari orang betawi. Boneka besar yang tingginya mencapai lebih 2 meter dan diameter hingga 1 meter itu dibuat dari anyaman bambu. Penggunaan material ini dipilih untuk memudahkan seniman ondel-ondel memikulnya dari dalam.

Pada bagian wajah, ondel-ondel dibekali topeng kedok dengan rambut kepala dari ijuk. Wajah ondel-ondel untuk laki-laki biasanya dicat dengan warna merah dengan menggunakan taring dan untuk perempuan dicat warna putih. Kesenian yang disiasati dari para leluhur mereka yang senantiasa menjaga anak cucu atau penduduk suatu desa.

Namun seiring berjalannya waktu, wujud ondel-ondel untuk lelaki berubah menjadi lebih sederhana dengan tidak lagi ditambahi dengan taring yang memang sangat menyeramkan dilihat oleh anak kecil.

Akhir-akhir ini di kota Tangerang, setiap malamnya, tepatnya pada jam-jam macet orang pulang dari kantor, terjadi fenomena banyaknya ondel-ondel yang berkeliaran. Hal ini membuat saya mengenang masa-masa kejayaan ondel-ondel yang dulu digemari anak-anak. Setidaknya saat dulu saya masih kecil.

Merebaknya seniman ondel-ondel yang turun ke jalan diiringi gerobak lengkap dengan pengeras suara dan bermodal musik betawi ini memang dilandasi kehendak untuk mengamen di jalanan. Biasanya, di antara kelompok seniman ondel-ondel ada satu-dua orang yang membawa ember untuk menampung uang saweran masyarakat. Karena ngamen yang semacam ini agak sulit dilakukan, biasanya hanya tempat-tempat ramai yang didatangi mereka.

Agak miris, sebenarnya. Mengingat ondel-ondel adalah hiburan rakyat yang lekat dengan tradisi sebuah suku bangsa. Apakah memang sudah tak ada lagi tempat bagi ondel-ondel untuk tampil di panggung kesenian hingga harus turun ke jalan? Atau memang kita yang sudah tidak bisa menghargai tradisi semacam ini?

Begitulah kisah yang harus dialami ondel-ondel. Andai ondel-ondel itu bisa bicara, apa kira-kira yang ingin ia sampaikan? Aku rasa ia akan menyampaikan “Pegel cang, gentian dong! Berat banget ini.”

Dipublikasikan pertama kali di bacatangerang.com

Profil penulis :
Nama : Rahmat Baihaqi
Biodata : Pecinta karya Dewi Lestari, penikmat Serie A, dan mencintai kota Milan
dengan merah-hitamnya.
DapatDapat dijumpai di Twitter dengan akun @rbaihaqi_